Nana masih trauma dengan kejadian yang dialami olehnya kemarin. Sekarang,
Nana tidak mau didekati oleh siapapun, termasuk Ritsu dan Nagisah. Mereka
merasa kasihan melihat keadaan Nana jika begini terus.
Sebelum masuk ke kelas, Nagisah memberitahu hal kemarin ke Ritsu.
“Ritsu, kemarin mengerikan ya!”
“Ya. Aku gak nyangka! Aku kira Minako itu baik, gak nyangka dia jahat
banget!”
“Jadi, kita harus melindungi Nana.”
Tatsuya dan Yosi tiba-tiba datang dan berkata,”Melindungi siapa?”
“Aaaahhh! Gak papa!”
“Kenapa sih? Ini rahasia perempuan! Laki-laki gak boleh dengar.”
“Ya sudah! Oh iya, nanti kita disuruh berkelompok pas pelajaran
Biologi.”
“Yosi, berapa orang dalam 1 kelompok?”
“Ehm.. kudengar sih sekitar 5 orang.”
“Waahh!! Pas tuh!”
“Kenapa Nagisah?”
“Aku tau rencanamu.”
“Rencana apa Ritsu?”
“Kan Nana, Nagisah, Ritsu, Tatsuya, Yosi. Kan jadi 5 orang.”
“Nana dimasukkan ya?”
“Iya Tatsuya. Kan kasihan Nana!”
Ya, bel
tanda pelajaran mulai dibunyikan. Semua murid menyiapkan peralatan belajar
mereka. Sambil menunggu guru Biologi masuk, Nana menggambar seorang perempuan.
Hobi Nana adalah menggambar. Nana paling suka menggambar Anime. Termasuk film
Detective Conan, film yang sangat disukai Nana. Tapi, sejak Yatsumi pergi, Nana
tidak pernah menonton film kesukaannya itu. Yosi yang tempat duduknya tepat
disamping kanan Nana, melihat gambar Nana yang bagus.
“Gambarmu
bagus kok!”
Nana masih tetap seperti dulu. Tetap tidak menjawab perkataan Yosi.
Saat guru Biologi masuk, semua murid bersiap untuk memulai pelajaran.
Memang tebakan Yosi tepat, guru Biologi menyuruh untuk berkelompok. Untuk 1
kelompok beranggotakan 5 orang. Lalu, Nagisah mengajak Nana untuk bergabung ke
kelompok Yosi.
“Nana, ayo ke kelompokku kah?”
“Iya.”
Untuk mendekati Yosi yang diimpikannya, Minako harus masuk dalam
kelompoknya Yosi.
“Yosi, aku boleh ikut ke kelompokmu gak?”
“Maaf saja! Kelompokku sudah penuh!”
“Tapi, kenapa?”
“Aku bilang kelompokku sudah penuh! Kamu masih ngeyel saja!”
“Siapa aja dalam kelompokmu?”
Tiba-tiba, Nagisah berkata,”Yosi, Nana mau ke kelompok kita. Gimana?”
“Iya. Aku sangat setuju tuh! Nah, apa kamu tadi udah dengar?
Kelompokku ada Nagisah, aku, Tatsuya, Ritsu, dan Nana. Jadi, maaf saja!”
“Iya. Gak papa.”
Huuhh!
Nana lagi, Nana lagi! Lagi-lagi dia mendekati Yosi. Awas kamu Nana ya! Aku akan
membalaskan lebih parah dari kemarin.
Tujuan untuk berkelompok adalah mendiskusikan tentang pencemaran lingkungan.
Dan dikerjakan dirumah sebagai PR kelompok. Di kelompoknya Nana, mereka sedang
mendiskusi tentang dirumah siapa untuk mengerjakan PR itu.
“Untuk mengerjakan PR yang sesulit itu, kita harus ke rumahnya siapa?
Nagisah?”
“Rumahku gak bisa karena ada acara.”
“Ya sudah. Nana?”
“Aku gak dibolehin.”
“Gak papa. Tatsuya?”
“Sama kayak Nana. Nanti ayahku marah gara-gara kita ribut.”
“Hmmm….. Yosi?”
“Rumahku bisa. Soalnya rumahku nanti gak ada orang.”
“Bagus! Tapi kapan?”
“Jam 2 aja! Soalnya acara dirumahku jam 5.”
“Iya. Soalnya aku nganggur juga.”
“Ya sudah! Jam 2 siang dirumahnya Yosi.”
“Yoooo!!!”
Sesuai dengan janjian mereka, mereka datang kerumah Yosi jam 2.
Nagisah membawa banyak makanan buat kerja kelompok. Akhirnya mereka memulai
kerja kelompok. Mereka bekerja kelompok dengan serius, tidak ada yang
bermain-main. Setelah mereka selesai berkerja keras, saatnya bermain. Tatsuya
menawarkan Video Game dari ibunya.
“Teman-teman, aku ada video game nih! Ayo kita main?”
“Yoooo!!!”
Ditengah mereka bermain, Nana ditinggalkan sendirian. Perasaannya
masih sakit. Ia ingin menghilangkan rasa sakit ini. Dilihatnya mereka sedang
bermain video game milik Tatsuya. Ditengah keseruan permainan mereka,
dipecahkan dengan pertanyaan Nana.
“Apakah aku boleh ikutan?”
“Hah?” teriak semua dengan kaget.
“Ayo kita main Nana!” ajak Nagisah.
“Benarkah?” tanya Nana.
“Iya. Boleh dong! Kita ingin kamu mencoba permainan yang ini!” jawab
Tatsuya.
“Terima kasih semuanya! Kalian teman yang baik!”
“Kan udah lama kita menganggap kamu adalah sahabat. Menjadi 5
serangkai. Hihi!” kata Yosi.
Dan perasaan itu terulang lagi yang kedua. Perasaan itu persis sesuatu
yang tidak bisa dijelaskan.
Perasaan
itu terulang lagi! Yosi memang baik. Tapi, kenapa kalau didepannya hatiku
selalu berdetak kencang? Ada apa ini? Mungkin sesuatu sedang terjadi.
“NANA!!” teriak Yosi.
“Aaaahhh! Ya! Ada apa?”
“Cepat kamu yang pegang stik PSnya!”
“Lho, emangnya ini permainan apa?”
“Permainan MotoGP F1.” Kata Tatsuya.
“Terus, ini lawannya siapa?”
“Lawannya aku. Hehe!” jawab Ritsu.
Ya, jujur saja kalau Ritsu agak tomboi. Permainan yang dia sukai
adalah balapan, petualangan, dan pertarungan. Dia juga sama kayak Nana,
sama-sama suka Anime. Permainan pun dimulai. Tetapi, Ritsu sudah melaju menjauh
didepan. Nana masih tertinggal. Nana juga tak mau kalah. Nana injak gas dan
posisi sekarang Nana adalah tepat disamping motor Ritsu. Permainan ini
benar-benar sengit. Nagisah, Yosi, Tatsuya hanya menonton dengan dengan
terheran-heran. Bagaimana bisa, Nana yang super pendiam itu juga bisa bermain
PS dengan semangat. Dan hampir di garis akhir, Ritsu dan Nana sama-sama
menginjak gas. Dan akhirnya, Nana yang menang.
“Selamat! Kamu menang!”
“Terima kasih, Ritsu!”
“Nana, kamu hebat! Aku gak nyangka, kalau kamu bisa mengalahkan
Ritsu!”
“Yahh!”
Yosi hanya terdiam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu, dia masih
memikirkan Nana. Lagi-lagi Nana terbayang dipikirannya. Tatsuya tau itu dan
mencoba untuk menghiburnya.
“DOORR!!! Hahahahaha! Kok kamu melamun?”
“Siapa yang melamun?”
“Aku tau kok! Pasti kamu mikirin Nana kan?”
Entah bagaimana Tatsuya bisa menebaknya. Berubah muka Yosi yang putih
tampan itu menjadi merah hanya malu.
“Enggaak kok! Lagipula siapa yang mikirin dia. Dan juga dia anak klub
karate. Jadi, gak perlu di khawatirkan.”
“Huh! Kamu terlalu santai.”
“Haha!”
Yosi, aku tau kamu mikirin Nana kan? Lebih
baik kenapa kamu gak pacaran aja? Kan biar gak mundur saat-saat bahagiamu. Eh,
tunggu dulu! kenapa aku terlalu ngurusin Yosi. Kan itu urusannya dia. Aku gak
ikut ah!
“Nah! Kalian yang main!” kata Ritsu.
“Ya.” Jawab Tatsuya.
Yosi masih membayangkan jawaban Tatsuya yang mirip peramal.
“YOSI!” teriak Nagisah.
“Ya. Aku main.”
Nana pun melanjutkan melamunnya.
Terima
kasih semua! Kalian membuatku menjadi ceria kembali. Yatsumi, aku bisa bahagia
tanpamu. Aku bisa merasakan kebahagian itu sekarang. Terima kasih Tuhan!
Sejak saat itu, Nana yang yang pendiam karena ditinggal Yatsumi,
berubah seperti dulu. Ya, itu berkat sahabat yang mengerti perasaan seorang
sahabat yang sedih. Dan sekarang, Nana berubah total. Meninggalkan rasa depresi
itu.