Jumat, 22 Agustus 2014

Kerja kelompok

Nana masih trauma dengan kejadian yang dialami olehnya kemarin. Sekarang, Nana tidak mau didekati oleh siapapun, termasuk Ritsu dan Nagisah. Mereka merasa kasihan melihat keadaan Nana jika begini terus.
Sebelum masuk ke kelas, Nagisah memberitahu hal kemarin ke Ritsu.
“Ritsu, kemarin mengerikan ya!”
“Ya. Aku gak nyangka! Aku kira Minako itu baik, gak nyangka dia jahat banget!”
“Jadi, kita harus melindungi Nana.”
Tatsuya dan Yosi tiba-tiba datang dan berkata,”Melindungi siapa?”
“Aaaahhh! Gak papa!”
“Kenapa sih? Ini rahasia perempuan! Laki-laki gak boleh dengar.”
“Ya sudah! Oh iya, nanti kita disuruh berkelompok pas pelajaran Biologi.”
“Yosi, berapa orang dalam 1 kelompok?”
“Ehm.. kudengar sih sekitar 5 orang.”
“Waahh!! Pas tuh!”
“Kenapa Nagisah?”
“Aku tau rencanamu.”
“Rencana apa Ritsu?”
“Kan Nana, Nagisah, Ritsu, Tatsuya, Yosi. Kan jadi 5 orang.”
“Nana dimasukkan ya?”
“Iya Tatsuya. Kan kasihan Nana!”
Ya, bel tanda pelajaran mulai dibunyikan. Semua murid menyiapkan peralatan belajar mereka. Sambil menunggu guru Biologi masuk, Nana menggambar seorang perempuan. Hobi Nana adalah menggambar. Nana paling suka menggambar Anime. Termasuk film Detective Conan, film yang sangat disukai Nana. Tapi, sejak Yatsumi pergi, Nana tidak pernah menonton film kesukaannya itu. Yosi yang tempat duduknya tepat disamping kanan Nana, melihat gambar Nana yang bagus.
“Gambarmu bagus kok!”
Nana masih tetap seperti dulu. Tetap tidak menjawab perkataan Yosi.
Saat guru Biologi masuk, semua murid bersiap untuk memulai pelajaran. Memang tebakan Yosi tepat, guru Biologi menyuruh untuk berkelompok. Untuk 1 kelompok beranggotakan 5 orang. Lalu, Nagisah mengajak Nana untuk bergabung ke kelompok Yosi.
“Nana, ayo ke kelompokku kah?”
“Iya.”
Untuk mendekati Yosi yang diimpikannya, Minako harus masuk dalam kelompoknya Yosi.
“Yosi, aku boleh ikut ke kelompokmu gak?”
“Maaf saja! Kelompokku sudah penuh!”
“Tapi, kenapa?”
“Aku bilang kelompokku sudah penuh! Kamu masih ngeyel saja!”
“Siapa aja dalam kelompokmu?”
Tiba-tiba, Nagisah berkata,”Yosi, Nana mau ke kelompok kita. Gimana?”
“Iya. Aku sangat setuju tuh! Nah, apa kamu tadi udah dengar? Kelompokku ada Nagisah, aku, Tatsuya, Ritsu, dan Nana. Jadi, maaf saja!”
“Iya. Gak papa.”
Huuhh! Nana lagi, Nana lagi! Lagi-lagi dia mendekati Yosi. Awas kamu Nana ya! Aku akan membalaskan lebih parah dari kemarin.
Tujuan untuk berkelompok adalah mendiskusikan tentang pencemaran lingkungan. Dan dikerjakan dirumah sebagai PR kelompok. Di kelompoknya Nana, mereka sedang mendiskusi tentang dirumah siapa untuk mengerjakan PR itu.
“Untuk mengerjakan PR yang sesulit itu, kita harus ke rumahnya siapa? Nagisah?”
“Rumahku gak bisa karena ada acara.”
“Ya sudah. Nana?”
“Aku gak dibolehin.”
“Gak papa. Tatsuya?”
“Sama kayak Nana. Nanti ayahku marah gara-gara kita ribut.”
“Hmmm….. Yosi?”
“Rumahku bisa. Soalnya rumahku nanti gak ada orang.”
“Bagus! Tapi kapan?”
“Jam 2 aja! Soalnya acara dirumahku jam 5.”
“Iya. Soalnya aku nganggur juga.”
“Ya sudah! Jam 2 siang dirumahnya Yosi.”
“Yoooo!!!”
Sesuai dengan janjian mereka, mereka datang kerumah Yosi jam 2. Nagisah membawa banyak makanan buat kerja kelompok. Akhirnya mereka memulai kerja kelompok. Mereka bekerja kelompok dengan serius, tidak ada yang bermain-main. Setelah mereka selesai berkerja keras, saatnya bermain. Tatsuya menawarkan Video Game dari ibunya.
“Teman-teman, aku ada video game nih! Ayo kita main?”
“Yoooo!!!”
Ditengah mereka bermain, Nana ditinggalkan sendirian. Perasaannya masih sakit. Ia ingin menghilangkan rasa sakit ini. Dilihatnya mereka sedang bermain video game milik Tatsuya. Ditengah keseruan permainan mereka, dipecahkan dengan pertanyaan Nana.
“Apakah aku boleh ikutan?”
“Hah?” teriak semua dengan kaget.
“Ayo kita main Nana!” ajak Nagisah.
“Benarkah?” tanya Nana.
“Iya. Boleh dong! Kita ingin kamu mencoba permainan yang ini!” jawab Tatsuya.
“Terima kasih semuanya! Kalian teman yang baik!”
“Kan udah lama kita menganggap kamu adalah sahabat. Menjadi 5 serangkai. Hihi!” kata Yosi.
Dan perasaan itu terulang lagi yang kedua. Perasaan itu persis sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Perasaan itu terulang lagi! Yosi memang baik. Tapi, kenapa kalau didepannya hatiku selalu berdetak kencang? Ada apa ini? Mungkin sesuatu sedang terjadi.
“NANA!!” teriak Yosi.
“Aaaahhh! Ya! Ada apa?”
“Cepat kamu yang pegang stik PSnya!”
“Lho, emangnya ini permainan apa?”
“Permainan MotoGP F1.” Kata Tatsuya.
“Terus, ini lawannya siapa?”
“Lawannya aku. Hehe!” jawab Ritsu.
Ya, jujur saja kalau Ritsu agak tomboi. Permainan yang dia sukai adalah balapan, petualangan, dan pertarungan. Dia juga sama kayak Nana, sama-sama suka Anime. Permainan pun dimulai. Tetapi, Ritsu sudah melaju menjauh didepan. Nana masih tertinggal. Nana juga tak mau kalah. Nana injak gas dan posisi sekarang Nana adalah tepat disamping motor Ritsu. Permainan ini benar-benar sengit. Nagisah, Yosi, Tatsuya hanya menonton dengan dengan terheran-heran. Bagaimana bisa, Nana yang super pendiam itu juga bisa bermain PS dengan semangat. Dan hampir di garis akhir, Ritsu dan Nana sama-sama menginjak gas. Dan akhirnya, Nana yang menang.
“Selamat! Kamu menang!”
“Terima kasih, Ritsu!”
“Nana, kamu hebat! Aku gak nyangka, kalau kamu bisa mengalahkan Ritsu!”
“Yahh!”
Yosi hanya terdiam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu, dia masih memikirkan Nana. Lagi-lagi Nana terbayang dipikirannya. Tatsuya tau itu dan mencoba untuk menghiburnya.
“DOORR!!! Hahahahaha! Kok kamu melamun?”
“Siapa yang melamun?”
“Aku tau kok! Pasti kamu mikirin Nana kan?”
Entah bagaimana Tatsuya bisa menebaknya. Berubah muka Yosi yang putih tampan itu menjadi merah hanya malu.
“Enggaak kok! Lagipula siapa yang mikirin dia. Dan juga dia anak klub karate. Jadi, gak perlu di khawatirkan.”
“Huh! Kamu terlalu santai.”
“Haha!”
  Yosi, aku tau kamu mikirin Nana kan? Lebih baik kenapa kamu gak pacaran aja? Kan biar gak mundur saat-saat bahagiamu. Eh, tunggu dulu! kenapa aku terlalu ngurusin Yosi. Kan itu urusannya dia. Aku gak ikut ah!
“Nah! Kalian yang main!” kata Ritsu.
“Ya.” Jawab Tatsuya.
Yosi masih membayangkan jawaban Tatsuya yang mirip peramal.
“YOSI!” teriak Nagisah.
“Ya. Aku main.”
Nana pun melanjutkan melamunnya.
Terima kasih semua! Kalian membuatku menjadi ceria kembali. Yatsumi, aku bisa bahagia tanpamu. Aku bisa merasakan kebahagian itu sekarang. Terima kasih Tuhan!

Sejak saat itu, Nana yang yang pendiam karena ditinggal Yatsumi, berubah seperti dulu. Ya, itu berkat sahabat yang mengerti perasaan seorang sahabat yang sedih. Dan sekarang, Nana berubah total. Meninggalkan rasa depresi itu. 

Musibah Nana

Mengingat kejadian yang tidak suka, seperti biasa, Minako dan kakak kembarnya, Monoka, sedang mengobrol tak jauh dari tempat kejadian.
“Kak, dia menabrak Yosi! Kenapa dia main nabrak sih?”
“Terus? Emang kenapa?”
“Aku mau balas dendam sama Nana!”
“Terus? Apa rencanamu?”
“Kita ceburin ke kolam.”
“Ya!” seolah-olah tak bersemangat.
Pada istirahat, Minako menanyakan kepada Nana.
“Nana, nanti kamu gak ada eskul kah?”
“Gak. Klub karate hari ini libur. Kenapa?”
“Setelah pulang sekolah, kamu jangan pulang dulu ya! Ada yang ingin aku ceritakan. Kamu tunggu didekat kolam ya?”
“Ya!”
Bel masuk berbunyi. Waktunya pelajaran Matematika. Pak Arita mulai masuk ke kelas. Pada saat pelajaran, Nagisah yang tempat duduknya tepat didepan tempat duduknya Nana, bertanya ke Nana.
“Nana, nanti kita pulang sama-sama kah?”
“Gak. Maaf ya?”
“Oh. Yaudah.”
Bel pulang berbunyi. Semua siswa beres-beres untuk pulang. Nana bersiap-siap pergi ke dekat kolam. Nagisah curiga kepada Nana apa yang akan dilakukan Nana.
“Ritsu, kita pulang belakangan aja kah?”
“Ngapain?”
“Kita buntutin Nana.”
“Eeehh!! Emang kamu ini Detective Conan apa?”
“Aaah, bukan! Kamu gak curiga sama Nana?”
“Nana kan selalu begitu.”
“Ya sudah! Kalau kamu gak mau, aku aja yang…”
“Ya, ya,ya! Jangan marah! Ya! Aku ikut.”
Nagisah dan Ritsu membuntuti Nana. Perasaan Nana yang tidak enak karena merasa dibuntuti oleh seseorang. Nagisah dan Ritsu mengusahakan agar jangan sampai ketahuan oleh Nana. Dan itu membawa mereka pada suatu tempat , yaitu dekat kolam.
“Ngapain Nana dekat kolam?” tanya Ritsu
“Ssstt! Diam! Nanti kita ketahuan sama Nana.” jawab Nagisah.
“Eh Nagisah! Bukankah itu Minako dan Monoka?”
“Mana? Iih! Iya. Tapi, apa yang mereka lakukan disini?”
“Entah. Tapi kita harus lihat Nana terus.”
“Ya.”
Kok lama sekali sih Minako? Katanya ada yang dibicarakan. Jangan-jangan ada yang ada dibicarakan rahasia banget. Jadi, jangan sampai ketahuan sama siapa pun.
Dan tiba-tiba Minako berlari mendekati Nana. Dengan kerasnya, Minako menyenggolkan Nana hingga jatuh ke kolam dengan kerasnya.
BYUUURRR!!!
“RASAKAN TUH!! EMANG ENAK?”
Nana tercebur ke kolam yang tidak begitu dalam. Masalahnya, Nana tidak bisa berenang. Tapi anehnya, Nana tidak meminta tolong kepada orang lain. Nagisah dan Ritsu terkejut gak main-main. Ritsu berkata kepada Nagisah.
“Kejam sekali Minako! Dia kan gak ada salah. Kok malah diceburin?”
“Iya. Kasihan sekali Nana! Ayo kita tolong!”
“Jangan! Kemungkinan nyaris nol.”
“Nyaris nol apaan?”
“Coba kamu pikirkan! Kalau kita menolong secara tiba-tiba, mereka pasti sadar kalau mereka sedang dibuntutin. Dan mereka akan mencaci maki kita. Kita juga akan bernasib sama seperti Nana. Lebih baik kita tunggu sampai mereka pergi.”
“Haaaahh?? Yang benar aja! Kamu tahu kan kalau Nana tidak bisa berenang? Nanti Nana tenggelam, gimana?”
“Enggak lah. Aku masih berpikir apakah mereka akan masih lama atau sebentar?”
Dan akhirnya keberuntungan terjadi. Akhirnya Minako dan Monoka pergi meninggalkan Nana. Kesempatan yang bagus. Mereka diam-diam menghampiri Nana dan mengulurkan tangan mereka.
“Nana, peganglah tanganku!” terusnya Ritsu.
Akhirnya Nana bisa keluar dari kolam renang.
“Nana, kita anterin pulang kah? Aku kasihan melihatmu. Dia kejam banget.”
“Terima kasih.”
Setelah sampai dirumah Nana, ibunya Nana sangat terkejut ketika melihat putri kesayangannya basah kuyup.
“Nana, kamu kenapa? Kok basah kuyup?” Tanya Ibunya Nana
“Ritsu, bagaimana? Gimana kalau kamu yang bilang?” Tanya Nagisah.
“Gak. Kamu aja!”
“Ada apa? Kok malah bertengkar?”
“Anu, eh! Kayak apa ya jelasin?”                                                                                 
Aduh! Gimana nih? Gimana kalau ibunya Nana marah? Aku takut lihat ibunya Nana marah.
Nana berkata dengan tiba-tiba,”Gak ada. Aku mau ke kamar!”
“Oh ya sudah. Adik-adik, makasih ya udah anterin Nana!”
“Iya bu! Apakah Nana selalu begitu?” Tanya Nagisah.
“Iya. Ibu juga gak tau kenapa Nana menjadi begitu. Waktu Yatsumi masih sahabat dengan Nana, Nana gak pernah begitu. Apa mungkin Nana kelahi dengan Yatsumi? Ah, lupakan! Sekali lagi makasih ya! Maaf telah merepotkan adik-adik! Ayo masuk aja dulu!”
“Gak usah ibu! Kami mau pulang cepat! Nanti dicariin orang tua.”
Nana mengintip kejadian dari jendela kamar.

Yatsumi! Seandainya kamu disini bersamaku, aku gak akan menjadi seperti ini.

Reuni yang Tidak Terduga

 Nagisah merasa kasihan kepada Nana. Ia ingin membuat sebuah Reunian SD agar Nana bisa kembali seperti semula. Ia harus mengundang Nana, Yosi, dan Yatsumi. Lalu, dia menanyakan kepada Ritsu.
“Ritsu, kita ngadain reunian SD kah?”
“Terus? Tujuannya apa?”
“Ya, membuat Nana kembali seperti semula. Sekaligus, juga bertemu guru-guru lama.”
“Iya, aku juga setuju.”
“Sebentar ya? Aku mau…”
“Eh tunggu, kapan reunian?”
“Ya, kita bicarakan kita bertiga dulu! Baru kita ajak Nana apa dia mau atau tidak. Kalau dia mau, kita berangkat. Kalau gak, kita tetap berangkat.”
“Ya sudah.”
“sebentar ya? Aku mau nelpon Yatsumi dulu!”
“Ya.”
Lalu, Nagisah pergi sebentar. Mengeluarkan Handphone kesayangannya. Nagisah menelpon Yatsumi.
“Halo? Apakah ini Yatsumi?”
“Iya. Ada apa? Oh iya, ini siapa?”
“Ini Nagisah. Aku mau ngerancanakan Reunian. Aku ingin menjemputmu setelah pulang sekolah.”
“Jangan kerumahku!”
“Lho, ada apa? Ada acara kah?”
“Gak. Aku ingin ceritakan kepadamu. Sebenarnya, aku udah pindah rumah ke luar kota. Dan aku gak akan kembali lagi.”
“Haaahhh?? Kapan?”
“Udah lama. Setelah lulus SD itu, aku langsung pergi. Maaf ya!”
“Ahh!! Gak papa.”
“Udah ya!”
“Ya!”
Jangan-jangan, itu penyebabnya Nana menjadi seperti ini? Dia kan sahabatnya Nana. Nana! Aku juga nyesal baru sadar kalau kamu seperti ini karena Yatsumi!
“Terus? Gimana? Yatsumi setuju?”
“Anu, aku mau ngasih tau bahwa kita batalkan reunian!”
“Haaahhhh??? Kenapa dibatalkan?”
“Sebenarnya, Yatsumi pindah rumah ke luar kota dan dia bilang dia gak akan kembali lagi.”
“Yaahh!! Tunggu! Jadi selama ini Nana menjadi penyendiri gara-gara Yatsumi, dong?”
“Mungkin. Aku juga memperkirakan tentang hal. Bisa jadi dia seperti ini karena Yatsumi kan?”
Dibalik kejauhan, Nana mendengarkan perkataan mereka berdua.
Meskipun kalian mengajakku untuk Reunian SD, aku gak akan bisa datang tanpa Yatsumi. Yatsumi! Seandainya kau disini, aku gak akan menderita seperti ini tanpamu!
 Lari meninggalkan Nagisah dan Ritsu. Ditengah Nana berlari…
BUK!!
Nana, menabrak seorang siswa kelas 1. Dan ternyata, dia Yosi yang selesai dari perpustakaan bersama  Tatsuya.
“Ma, maaf! Aku menjatuhkan bukumu!”
“Aaah, gak papa!”
“Lho?”
“Ada apa, Nana?”
“Gak papa. Aku mau pergi dulu! Daahh!” Jawab Nana sambil lari kencang.
Kok aneh ya? Ketika aku melihat wajahnya, hatiku berdetak kencang dan seolah-olah aku malu besar. Tapi, ada apa? Aku gak ngerti perasaan ini!
“Hei, dia cocokkan buatmu?” Tanya Tatsuya.
“A,apa? Buat apa? Maksudmu pacaran?”
“Iya. Kulihat wajahnya, wajahnya merah. Hihihi!”
“Udah. Gak usah dibahas!”
“Ya. Ayo kembali ke kelas!”
“Ya.”
Kok aku juga merasakan apa yang diceritakan Tatsuya ya? Masa’ aku suka sama Nana? Aaahhh! Mustahil! Palingan tadi dia malu karena dia menabrak dan takut dilihat semua orang.

Yosi tak habis pikir apa yang dia rasakan. Apa arti perasaan ketika dia melihat wajahnya Nana? Menurut Yosi, Nana itu cantik, manis. Mengingat kejadian itu, Nana selalu terbayang di pikiran Yosi.

Ditengah Olahraga

Ya, sebentar lagi pelajaran pak Mitsu, pelajaran olahraga. Perempuan dan laki-laki yang ada dikelas Nana semua ganti baju. Ketika ganti baju, terlintas dipikiran Minako bahwa dia ingin melenyapkan Nanako dari pandangan Yosi. Dia berkata kepada Monoka.
“Eh, bagaimana kalau kita melenyapkan Nanako dari pandangan Yosi?”
“Haaaahhhh??? Yang benar aja! Dia emangnya salah apa? Dia gak ngelakuin apa-apa kan? Gak mukul kamu kan?” jawab Monoka dengan rasa kaget yang meledak.
“Ssssstttt!!! Diam! Nanti dia bisa dengar pembicaraan kita.” Larangan Minako.
“Gak! Aku gak mau ikut yang begituan. Nana kan gak ada salah sama sekali. Kok dilenyapkan sih? Kan kasihan.” Jawab Minako.
“Kulapor hal ini dengan ibu!” kata Minako.
Minako adalah anak yang paling manja oleh orang tuanya. Monoka harus menuruti perkataan adiknya. Kalau dia membantah, bisa-bisa ibunya marah besar. Mereka disekolahkan ditempat yang sama agar Minako tidak diganggu oleh anak nakal.
“Ya, ya, ya. Jangan laporkan hal ini pada ibu! Nanti ibu marah besar.” larangan Monoka.
“Yap! Bagus!” jawab Minako.
“Terus, apa rencanamu?” Tanya Monoka.
“Kasi paku disepatunya. Kakak minta sama penjaga sekolah. Bilang penjaga sekolah yang satunya kekurangan paku.” Jawab Minako.
“Ya!” jawab Monoka.
“Dan ingat! Jangan beri tau orang lain!” terusnya Minako.
“Ya!” jawab Monoka.
Bagaimana nih? Nana akan dijahilin? Apa aku harus bilang sama Nana? Apa Nana akan baik-baik aja? Tapi, gimana dengan Minako? Aahhh, lebih baik jangan. Dalam hatinya Monoka.
Setelah paku telah dikabulkan oleh Monoka, mulailah Minako melanjutkan aksinya. Dilihat apakah ada orang atau tidak? Sepertinya keberuntungan bagi Minako untuk menaruh paku. Satu-persatu paku ditaruh dengan jumlah yang seimbang. Setelah itu, mereka lari tebirit-birit bersembunyi.
Waktunya ditunggu-tunggu. Nana memakai sepatu kesayangannya. Serasa tidak ada rasa sakit saat memakainya. Rupanya perasaan sakit saat ditinggalkan Yatsumilah yang jauh lebih sakit daripada kakinya ditusuk beribu paku.
“Haaahhh?? Kok bisa gak sakit sama sekali?” kesal Minako.
Nana memiliki kesabaran yang sangat hebat. Bisa menahan 10 paku yang ada didalam sepatunya. Kata Monoka dalam hatinya. Tapi, saat Monoka melihat wajah Nana yang penuh rasa kesedihan dia berkata dalam hatinya. Nana, apa yang telah terjadi? Wajahmu seperti penuh dengan kesedihan yang mendalam. Kesabaran bercampur dengan perasaan sakit hati. Nana!
“Ya, semuanya. Saatnya kita belajar tentang Rolling depan, Rolling belakang, sikap lilin. Kemarin, sudah saya kasih tau. Sekarang praktiknya.  2 orang ambil matrasnya.” Kata pak Mitsu.
“Hei Ritsu, kita tanya Nana kah? Dia bisa atau belum.” tanya Nagisah.
“Iya. Tanya aja! Siapa tau belum tau, tinggal kasi tau.” Jawab Ritsu.
Lalu, mendekati Nana.
“Nana, kamu udah tau tentang senam lantai kah?” Tanya Nagisah.
Belum ada jawaban dari Nana.
“Hei Nana! Kalau ada orang tanya dijawab dong!! Itu gak baik tau!” marah Ritsu.
Jawaban Nana saat menjawab pertanyaan Nagisah,” Coba jangan ganggu aku kenapa sih? Kalian mau pergi kah kalau aku bilang sudah?”
“Hei Nana! Bagusin mulutmu ya? Kita kan ngomongnya baik-baik, kok kamu ngomongnya kasar gitu sih?” Marah Ritsu yang memuncak.
“Hei, udah jangan bertengkar! Gak baik. Ayo Ritsu, aku mau ngomong sama kamu sebentar.” Leraian Nagisah.
Lalu pergi meninggalkan Nana yang menyendiri.
“Ada apa sih? Ada rahasia kah?” Tanya Ritsu.
“Kamu gak lihat wajahnya Nana kah?” Tanya lagi Nagisah ke Ritsu.
“Enggak. Emangnya ada apa?” Tanya Ritsu lagi.
“Dia lagi sedih tau! Mungkin dia lagi mikirin apa gitu.”jawab Nagisah.
“Terus? Kalau sedih kenapa dia gak ceritakan ke kita? Kan bisa curhat kan?” Tanya Ritsu.
“Kan kita gak nawarin untuk curhat kan?” Tanya Nagisah.
“Oh iya! Aku lupa! Hehe!” jawab Ritsu.
“Anak-anak, matras udah disiapkan. Sekarang, praktek satu-satu orang” kata pak Mitsu.
Semua anak sudah mencoba keahlian mereka. Sekarang, giliran Nana. Tapi, seperti tidak semangat sama sekali. Tanpa, Yatsumi? Bisa jadi. Saat melakukan senam lantai, ada yang aneh dengan lantai. Penuh dengan berwarna merah. Mungkin darah? Ya. Itu darah. Yang pertama kali menemukan darah adalah Tatsuya.
“Yosi, sejak kapan ada darah di lantai?” Tanya Tatsuya.
“Hah? Darah? Mana?” Tanya Yosi.
“Itu.” Jawab Tatsuya sambil menunjukkan jari ke tempat darah itu.
“Iya. Tapi, darahnya siapa?”
Tapi, kalau itu sudah lama terlihat di lantai, harusnya udah ada yang menyadari. Tapi, dari tadi gak ada darah sebelumnya. Tunggu! Kalau itu benar, berarti..
“Paakk!!!! Kakinya Nana berdarah Paak! Cepat kita harus menolongnya” Teriak Yosi.
“Benar kah Yosi? Nana, ayo kita ke UKS!” ajak Nagisah.
“Jika dari tadi tidak ada darah, itu bisa diwajarkan. Tapi, jika ada darah barusan itu bisa ditebak dan dicurigai. Bisa diduga bahwa kakinya Nana terluka.”
Sambil menggendong Nana, Yosi bertanya, “ Nana, kalau kakimu berdarah, kenapa kamu gak ke UKS? Kan jauh lebih baik?”
Sama seperti pertama kali bertemu, Nana gak jawab sama sekali.
“Nana, kamu gak papa kan?” Tanya Nagisah.
Ketika dibuka sepatu oleh Ritsu, betapa terkejut 10 paku yang menancap kakinya Nana.
“Nana, siapa yang melakukan ini? Kejam banget yang melakukan ini!” Tanya Ritsu.
“Hei, jawab dong!!”
Tiba-tiba, Nagisah mencubit tangan Ritsu.
“Aaaw! Sakit tau!”
“Masa’ kamu lupa sama rahasia tadi?”
“Iya. Aku minta maaf!”
“Huh!”
“Nana, kamu mau gak aku anterin sampai rumah mu?” Tanya Yosi.
“Tidak. Aku bisa jalan sendiri. Gak usah dikhawatirkan.”
“Ya sudah!”
“Iiiihhh! Aku benci banget!! Harusnya aku yang diperlakukan seperti itu. Kok malah Nana sih?” kesal Minako.
“Kan aku udah bilang! Aku gak mau ikut yang beginian! Kamu melakukan tanpa memikirkan dampaknya dulu!”
“Ya sudah! Kalau kakak emang gak mau ikut, kulapori ibu!”
“Lupakan hal ini! Aku sudah capek!”


Teman Nana yang Pertama

             Sekarang, Nana sekolah di SMP Besutosukuuru (Pada tulisan Besutosukuuru, huruf ku dibaca panjang sedikit) diwilayah Kofu, sekolah yang diimpikan Nana dan Yatsumi. Tapi, sekarang? Yatsumi tidak ada disebelah bangku Nana. Nana selalu mengharapkan Yatsumi yang baik itu kembali ke kota Kofu. Pada saat pelajaran bu Siwataka, yaitu pelajaran seni, ada seorang anak laki-laki yang lupa membawa pewarna. Sehingga, dia meminjam pewarna milik Nana.
“Hei, aku boleh pinjam pewarnamu gak?” Tanya laki-laki itu.
Tanpa berkata sedikitpun, Nana langsung memberikan pewarna miliknya itu. 
Lalu, laki-laki itu berkata kepada Nana “Terima Kasih,Nana”.
Nana juga tidak berkata sedikitpun. Di sisi lain, ternyata ada orang yang tidak suka melihat tindakan Nana itu. Namanya Minako Kachiwara dan kakak kembarnya Monoka Kachiwara. Minako adalah temannya laki-laki itu.
Waktu istirahat berbunyi, pelajaran bu Siwataka pun berakhir. Nana pun langsung ke kantin tanpa mempedulikan siapapun. Dia duduk ditempat yang sepi. Disaat dia makan, datanglah laki-laki yang meminjamkan pewarna tadi. Lalu, Nana menjauh.
“Hei, gambaranmu tadi bagus kok!” pujinya laki-laki itu.
Nana tetap diam seolah tidak mempedulikan laki-laki itu.
“Namamu siapa?” Tanya laki-laki itu.
“Nanako Matsunaga.” jawab Nana.
“Aku Yosimori Tachihara.” Jawab laki-laki itu.
“Oh.” Jawab Nana sambil meninggalkan Yosi.
“Kenapa sih dia dekat-dekat sama Nana?” tanya Minako dengan sinis dari jarak jauh.
“Aku juga gak tau. Mungkin dia mencari teman” jawab Monoka.
“Kan cari teman harusnya laki-laki. Bukan perempuan. Aku jadi curiga!” jawabnya Minako dengan kesal.
“Mungkin dia udah bosen dengan teman laki-laki. Sekali-kali cari teman cewek.” Jawabnya Monoka.
“Terus, aku gak dianggap teman gitu?” Tanya Minako dengan galak.
“Entahlah.” Jawab Monoka.
 Kembali kepada Yosi, didatangi oleh 3 orang. 2 perempuan dan 1 laki-laki. Ternyata mereka adalah Nagisah Hakamoto, Ritsuki Hondo, dan Tatsuya Suzuki. Nagisah Hakamoto adalah sahabat Yosi yang paling baik. Waktu SD, Yosi, Nana, Yatsumi, Nagisah,dan Ritsu adalah teman 1 sekolah.
Ritsuki Hondo adalah sahabat Yosi yang paling pintar dikelas Nana. Ritsu hanya tertarik dengan dunia pelajaran (paling mencolok sih matematika). Selain itu, dia tidak terlalu tertarik . Meskipun begitu, dia anak perempuan yang baik. Tatsuya Suzuki adalah sahabat Yosi yang paling terakhir.
Tatsuya adalah anak dari orang yang terpandang statusnya. Ayahnya  seorang anggota perusahaan Game terkenal di Jepang. Ibunya adalah penulis novel yang paling terkenal. Meskipun dia orang kaya, Tatsuya tetap berteman seperti anak-anak lain.
“Gimana? Udah bisa dekati dia?” Tanya Ritsu.
“Belum. Dia kayaknya pendiam banget! Susah berteman sama dia.” Kata Yosi.
“Tapi, sebelumnya dia gak kayak gitu. Dia dulu ceria banget! Tapi sekarang? Beda banget dengan yang dulu.” Kata Nagisah.
“Lho, kamu 1 sekolah dengan Nana?” Tanya Tatsuya dengan kaget.
“Gak hanya Nana. Yatsumi, Yosi, Ritsu juga 1 sekolah.”jawab Nagisah.

“Oh. Ya sudah.” Jawab Tatsuya.

Masa Lalu yang Menyedihkan

Sebuah kejadian yang membuat Nana hampir tidak bisa menahan air mata. Nana memiliki seorang sahabat yang sangat baik. Bahkan, membuat Nana menobatkan sebagai sahabat yang paling baik. Namanya Yatsumi Haruno. Dia juga teman sekelasnya Nana sejak SD. Dan sekarang, mereka telah lulus dari SD dan berencanakan sekolah yang sama.
Sampai suatu hari, seperti biasa, Nana main kerumah Yatsumi yang tidak jauh dari rumahnya. Saat melintas rumahnya Yatsumi, rumah Yatsumi sangat kosong, bahkan tidak ada satupun barang dirumah Yatsumi. Sesuatu ada yang aneh. Ketika dia melihat rumah Yatsumi, terlihat Yatsumi diteras rumah dengan wajah yang sedih. Lalu, Nana menghampiri Yatsumi.
“Yatsumi, ada apa? Kok murung?” Tanya Nana.
 “ Aku sebenarnya mau bilang ke kamu, tapi aku gak bisa. Aku takut akan meninggalkan bekas luka dihatimu.” Jawab Yatsumi.
 “Lho, emangnya ada apa? Kamu punya pacar? Terus,kamu putus sama dia?” tanya Nana.
“Bukan. Aku gak punya pacar kok. Aku mau bilang sebenarnya aku tuh mau pergi dari kota Kofu ini.” Jawab Yatsumi.
“Haaaahhh?? Mau pergi? Pergi kemana?” Tanya Nana lagi sangking kagetnya.
“Aku mau pergi ke luar kota mengikuti ayahku. Kayaknya aku pergi dan tak pernah kembali lagi.” Jawab Yatsumi sambil meneteskan air mata.
“Maaf ya Nana! Kalau misalnya aku pernah punya kesalahan selama kita menghiasi lembaran kehidupan kita. Aku sangat nyesal banget! Aku ingin menolak ajakannya ayahku, tapi apa boleh buat. Karena ini sudah takdirnya, aku gak bisa menolak. Maaf ya Nana! Tolong jangan lupakan aku ya?”terusnya Yatsumi dengan penuh rasa penyesalan.
 “Tapi Yatsumi, aku gak mau kamu pergi! Aku mohon Yatsumi!” permohonan  Nana dengan penuh air mata.
” Aku gak bisa Nana! Aku sudah menduganya. Ini akan meninggalkan bekas luka dihati. Maaf ya Nana!” jawab Yatsumi dengan rasa kesedihannya.
“Nah, itu mobilnya udah didepan rumah tuh! Udah ya Nana! Mulai sekarang, detik ini, jangan pernah melupakanku! Ok? Selamat tinggal Nana!” permohonan terakhir dari Yatsumi sambil mendekati mobil yang akan ditumpangi oleh Yatsumi.
“ Yatsumiiiiii!!! Aku mohon jangan pergi! Yatsuuumiiiiii!!!!” teriak Nana sambil mengejar mobil yang ditumpangi Yatsumi sambil menangis.

 Sejak 2 tahun yang lalu itu, Nana yang dulu sangat ceria, pandai bergaul, berubah menjadi pendiam, pemarah, sangat tidak suka diajak berkomunikasi dengan orang lain, dan suka menyendiri. 

Sebuah Keluarga

Aku punya teman dari Jepang. Namanya Nanako Matsunaga. Umurnya 14 tahun. Dia tinggal di Kota Kofu. Dia kelas 2 SMP di wilayah Kofu. Dia memiliki ciri-ciri dengan mata yang hitam, berkacamata (kayak Conan aja!), rambut panjang sampai pinggang, diikat kelabang. Aku kenal dia dari temanku. Kami saling bertukar pikiran mengenai apa saja.
            Keluarganya, keluarga Matsunaga, punya 3 anak. Yang pertama, namanya Brendan Matsunaga, kakak laki-lakinya Nana. Dia adalah kakak yang paling galak. Jangankan nanya, menyapapun seperti tidak bersemangat sama sekali.
Yang kedua, Fuyuki Matsunaga. Kakak perempuan Nana. Dia adalah kakak yang paling baik. Nana sangat menyukai Fuyuki-Neechan.
Yang terakhir adalah Nanako Matsunaga. Dia adalah temanku yang bisa dibilang sangat ceroboh dan nakal. Tetapi, dibalik semua itu, dia sangat baik.
 Pada suatu hari, Nana tetap diam dikamarnya. Padahal, waktu makan malam hampir dimulai.
“Nana, ayo makan!” teriak ibu Nana.
Tetapi, tidak ada jawaban sedikitpun dari Nana.
“Brendan, coba lihat adikmu dikamar!” kata ibu Nana.
“Ya bu!!” jawab Brendan-Niichan.
 Brendan-Niichan penasaran karena tidak turun dari kamarnya. Sambil diam-diam. Menuju kamar Nana yang berada dilantai 2. Dengan diam-diam mendekati pintu kamar Nana.
“Nana, ayo makan yuk!” ajak Brendan-Niichan.
Karena tidak ada jawaban, kak Brendan langsung membuka pintu. Ketika dibuka pintu Nana, jatuhlah setumpukkan buku yang dibuat oleh Nana. Dengan terheran-heran, kak Brendan mengatakan sambil menjewer telinga Nana.
“Jadi, begini toh! Selama ini kamu banyak-banyak beli buku buat menara gitu? Kamu tuh! Habis tau uang orang tua! Huh! Apa ndak tambah merah nih telinga?” marah kak Brendan sangarnya.
“Iya-iya. Aku minta maaf!” jawab Nana yang hampir menangis.
Tiba-tiba, datanglah seorang kakak perempuan yang bernama Fuyuki.
“Ada apa nih? Kok ribut?” Tanya kak Fuyuki.
“Nih adikmu! Menghabiskan uang orang tua hanya beli pensil. Terus, buat menara lagi. Apa ndak tambah marah?” Tanya kak Brendan.
“Udah! Kak Brendan makan aja dulu! Biar aku yang mengurus sisanya.” Kata kak Fuyuki sambil mendekati Nana.
“Iya.” Jawab kak Brendan tanpa coment meninggalkan kamar Nana.
Kak Fuyuki bertanya dengan halus.
“Ada apa? Kok tumben gak kayak biasanya?” Tanya kak Fuyuki.
“Gak papa. Hanya ingin buat menara.” Jawab Nana.
“Oh. Ya udah. Ayo turun. Nanti ibu marah!” kata kak Fuyuki.

“Yoooo!!!!” jawab Nana dengan semangat.