Jumat, 22 Agustus 2014

Ditengah Olahraga

Ya, sebentar lagi pelajaran pak Mitsu, pelajaran olahraga. Perempuan dan laki-laki yang ada dikelas Nana semua ganti baju. Ketika ganti baju, terlintas dipikiran Minako bahwa dia ingin melenyapkan Nanako dari pandangan Yosi. Dia berkata kepada Monoka.
“Eh, bagaimana kalau kita melenyapkan Nanako dari pandangan Yosi?”
“Haaaahhhh??? Yang benar aja! Dia emangnya salah apa? Dia gak ngelakuin apa-apa kan? Gak mukul kamu kan?” jawab Monoka dengan rasa kaget yang meledak.
“Ssssstttt!!! Diam! Nanti dia bisa dengar pembicaraan kita.” Larangan Minako.
“Gak! Aku gak mau ikut yang begituan. Nana kan gak ada salah sama sekali. Kok dilenyapkan sih? Kan kasihan.” Jawab Minako.
“Kulapor hal ini dengan ibu!” kata Minako.
Minako adalah anak yang paling manja oleh orang tuanya. Monoka harus menuruti perkataan adiknya. Kalau dia membantah, bisa-bisa ibunya marah besar. Mereka disekolahkan ditempat yang sama agar Minako tidak diganggu oleh anak nakal.
“Ya, ya, ya. Jangan laporkan hal ini pada ibu! Nanti ibu marah besar.” larangan Monoka.
“Yap! Bagus!” jawab Minako.
“Terus, apa rencanamu?” Tanya Monoka.
“Kasi paku disepatunya. Kakak minta sama penjaga sekolah. Bilang penjaga sekolah yang satunya kekurangan paku.” Jawab Minako.
“Ya!” jawab Monoka.
“Dan ingat! Jangan beri tau orang lain!” terusnya Minako.
“Ya!” jawab Monoka.
Bagaimana nih? Nana akan dijahilin? Apa aku harus bilang sama Nana? Apa Nana akan baik-baik aja? Tapi, gimana dengan Minako? Aahhh, lebih baik jangan. Dalam hatinya Monoka.
Setelah paku telah dikabulkan oleh Monoka, mulailah Minako melanjutkan aksinya. Dilihat apakah ada orang atau tidak? Sepertinya keberuntungan bagi Minako untuk menaruh paku. Satu-persatu paku ditaruh dengan jumlah yang seimbang. Setelah itu, mereka lari tebirit-birit bersembunyi.
Waktunya ditunggu-tunggu. Nana memakai sepatu kesayangannya. Serasa tidak ada rasa sakit saat memakainya. Rupanya perasaan sakit saat ditinggalkan Yatsumilah yang jauh lebih sakit daripada kakinya ditusuk beribu paku.
“Haaahhh?? Kok bisa gak sakit sama sekali?” kesal Minako.
Nana memiliki kesabaran yang sangat hebat. Bisa menahan 10 paku yang ada didalam sepatunya. Kata Monoka dalam hatinya. Tapi, saat Monoka melihat wajah Nana yang penuh rasa kesedihan dia berkata dalam hatinya. Nana, apa yang telah terjadi? Wajahmu seperti penuh dengan kesedihan yang mendalam. Kesabaran bercampur dengan perasaan sakit hati. Nana!
“Ya, semuanya. Saatnya kita belajar tentang Rolling depan, Rolling belakang, sikap lilin. Kemarin, sudah saya kasih tau. Sekarang praktiknya.  2 orang ambil matrasnya.” Kata pak Mitsu.
“Hei Ritsu, kita tanya Nana kah? Dia bisa atau belum.” tanya Nagisah.
“Iya. Tanya aja! Siapa tau belum tau, tinggal kasi tau.” Jawab Ritsu.
Lalu, mendekati Nana.
“Nana, kamu udah tau tentang senam lantai kah?” Tanya Nagisah.
Belum ada jawaban dari Nana.
“Hei Nana! Kalau ada orang tanya dijawab dong!! Itu gak baik tau!” marah Ritsu.
Jawaban Nana saat menjawab pertanyaan Nagisah,” Coba jangan ganggu aku kenapa sih? Kalian mau pergi kah kalau aku bilang sudah?”
“Hei Nana! Bagusin mulutmu ya? Kita kan ngomongnya baik-baik, kok kamu ngomongnya kasar gitu sih?” Marah Ritsu yang memuncak.
“Hei, udah jangan bertengkar! Gak baik. Ayo Ritsu, aku mau ngomong sama kamu sebentar.” Leraian Nagisah.
Lalu pergi meninggalkan Nana yang menyendiri.
“Ada apa sih? Ada rahasia kah?” Tanya Ritsu.
“Kamu gak lihat wajahnya Nana kah?” Tanya lagi Nagisah ke Ritsu.
“Enggak. Emangnya ada apa?” Tanya Ritsu lagi.
“Dia lagi sedih tau! Mungkin dia lagi mikirin apa gitu.”jawab Nagisah.
“Terus? Kalau sedih kenapa dia gak ceritakan ke kita? Kan bisa curhat kan?” Tanya Ritsu.
“Kan kita gak nawarin untuk curhat kan?” Tanya Nagisah.
“Oh iya! Aku lupa! Hehe!” jawab Ritsu.
“Anak-anak, matras udah disiapkan. Sekarang, praktek satu-satu orang” kata pak Mitsu.
Semua anak sudah mencoba keahlian mereka. Sekarang, giliran Nana. Tapi, seperti tidak semangat sama sekali. Tanpa, Yatsumi? Bisa jadi. Saat melakukan senam lantai, ada yang aneh dengan lantai. Penuh dengan berwarna merah. Mungkin darah? Ya. Itu darah. Yang pertama kali menemukan darah adalah Tatsuya.
“Yosi, sejak kapan ada darah di lantai?” Tanya Tatsuya.
“Hah? Darah? Mana?” Tanya Yosi.
“Itu.” Jawab Tatsuya sambil menunjukkan jari ke tempat darah itu.
“Iya. Tapi, darahnya siapa?”
Tapi, kalau itu sudah lama terlihat di lantai, harusnya udah ada yang menyadari. Tapi, dari tadi gak ada darah sebelumnya. Tunggu! Kalau itu benar, berarti..
“Paakk!!!! Kakinya Nana berdarah Paak! Cepat kita harus menolongnya” Teriak Yosi.
“Benar kah Yosi? Nana, ayo kita ke UKS!” ajak Nagisah.
“Jika dari tadi tidak ada darah, itu bisa diwajarkan. Tapi, jika ada darah barusan itu bisa ditebak dan dicurigai. Bisa diduga bahwa kakinya Nana terluka.”
Sambil menggendong Nana, Yosi bertanya, “ Nana, kalau kakimu berdarah, kenapa kamu gak ke UKS? Kan jauh lebih baik?”
Sama seperti pertama kali bertemu, Nana gak jawab sama sekali.
“Nana, kamu gak papa kan?” Tanya Nagisah.
Ketika dibuka sepatu oleh Ritsu, betapa terkejut 10 paku yang menancap kakinya Nana.
“Nana, siapa yang melakukan ini? Kejam banget yang melakukan ini!” Tanya Ritsu.
“Hei, jawab dong!!”
Tiba-tiba, Nagisah mencubit tangan Ritsu.
“Aaaw! Sakit tau!”
“Masa’ kamu lupa sama rahasia tadi?”
“Iya. Aku minta maaf!”
“Huh!”
“Nana, kamu mau gak aku anterin sampai rumah mu?” Tanya Yosi.
“Tidak. Aku bisa jalan sendiri. Gak usah dikhawatirkan.”
“Ya sudah!”
“Iiiihhh! Aku benci banget!! Harusnya aku yang diperlakukan seperti itu. Kok malah Nana sih?” kesal Minako.
“Kan aku udah bilang! Aku gak mau ikut yang beginian! Kamu melakukan tanpa memikirkan dampaknya dulu!”
“Ya sudah! Kalau kakak emang gak mau ikut, kulapori ibu!”
“Lupakan hal ini! Aku sudah capek!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar