Aku punya teman dari Jepang.
Namanya Nanako Matsunaga. Umurnya 14 tahun. Dia tinggal di Kota Kofu. Dia kelas
2 SMP di wilayah Kofu. Dia memiliki ciri-ciri dengan mata yang hitam, berkacamata
(kayak Conan aja!), rambut panjang sampai pinggang, diikat kelabang. Aku kenal
dia dari temanku. Kami saling bertukar pikiran mengenai apa saja.
Keluarganya, keluarga Matsunaga, punya 3 anak. Yang
pertama, namanya Brendan Matsunaga, kakak laki-lakinya Nana. Dia adalah kakak
yang paling galak. Jangankan nanya, menyapapun seperti tidak bersemangat sama
sekali.
Yang kedua, Fuyuki Matsunaga.
Kakak perempuan Nana. Dia adalah kakak yang paling baik. Nana sangat menyukai
Fuyuki-Neechan.
Yang terakhir adalah Nanako
Matsunaga. Dia adalah temanku yang bisa dibilang sangat ceroboh dan nakal. Tetapi,
dibalik semua itu, dia sangat baik.
Pada suatu hari, Nana tetap diam dikamarnya.
Padahal, waktu makan malam hampir dimulai.
“Nana, ayo makan!” teriak ibu
Nana.
Tetapi, tidak ada jawaban sedikitpun dari Nana.
“Brendan, coba lihat adikmu
dikamar!” kata ibu Nana.
“Ya bu!!” jawab Brendan-Niichan.
Brendan-Niichan penasaran karena tidak turun
dari kamarnya. Sambil diam-diam. Menuju kamar Nana yang berada dilantai 2.
Dengan diam-diam mendekati pintu kamar Nana.
“Nana, ayo makan yuk!” ajak
Brendan-Niichan.
Karena tidak ada jawaban, kak
Brendan langsung membuka pintu. Ketika dibuka pintu Nana, jatuhlah setumpukkan
buku yang dibuat oleh Nana. Dengan terheran-heran, kak Brendan mengatakan
sambil menjewer telinga Nana.
“Jadi, begini toh! Selama ini
kamu banyak-banyak beli buku buat menara gitu? Kamu tuh! Habis tau uang orang
tua! Huh! Apa ndak tambah merah nih telinga?” marah kak Brendan sangarnya.
“Iya-iya. Aku minta maaf!” jawab
Nana yang hampir menangis.
Tiba-tiba, datanglah seorang kakak perempuan yang bernama Fuyuki.
“Ada apa nih? Kok ribut?” Tanya
kak Fuyuki.
“Nih adikmu! Menghabiskan uang orang tua hanya beli pensil. Terus,
buat menara lagi. Apa ndak tambah marah?” Tanya kak Brendan.
“Udah! Kak Brendan makan aja
dulu! Biar aku yang mengurus sisanya.” Kata kak Fuyuki sambil mendekati Nana.
“Iya.” Jawab kak Brendan tanpa coment meninggalkan kamar Nana.
Kak Fuyuki bertanya dengan halus.
“Ada apa? Kok tumben gak kayak
biasanya?” Tanya kak Fuyuki.
“Gak papa. Hanya ingin buat
menara.” Jawab Nana.
“Oh. Ya udah. Ayo turun. Nanti
ibu marah!” kata kak Fuyuki.
“Yoooo!!!!” jawab Nana dengan
semangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar