Jumat, 22 Agustus 2014

Sebuah Keluarga

Aku punya teman dari Jepang. Namanya Nanako Matsunaga. Umurnya 14 tahun. Dia tinggal di Kota Kofu. Dia kelas 2 SMP di wilayah Kofu. Dia memiliki ciri-ciri dengan mata yang hitam, berkacamata (kayak Conan aja!), rambut panjang sampai pinggang, diikat kelabang. Aku kenal dia dari temanku. Kami saling bertukar pikiran mengenai apa saja.
            Keluarganya, keluarga Matsunaga, punya 3 anak. Yang pertama, namanya Brendan Matsunaga, kakak laki-lakinya Nana. Dia adalah kakak yang paling galak. Jangankan nanya, menyapapun seperti tidak bersemangat sama sekali.
Yang kedua, Fuyuki Matsunaga. Kakak perempuan Nana. Dia adalah kakak yang paling baik. Nana sangat menyukai Fuyuki-Neechan.
Yang terakhir adalah Nanako Matsunaga. Dia adalah temanku yang bisa dibilang sangat ceroboh dan nakal. Tetapi, dibalik semua itu, dia sangat baik.
 Pada suatu hari, Nana tetap diam dikamarnya. Padahal, waktu makan malam hampir dimulai.
“Nana, ayo makan!” teriak ibu Nana.
Tetapi, tidak ada jawaban sedikitpun dari Nana.
“Brendan, coba lihat adikmu dikamar!” kata ibu Nana.
“Ya bu!!” jawab Brendan-Niichan.
 Brendan-Niichan penasaran karena tidak turun dari kamarnya. Sambil diam-diam. Menuju kamar Nana yang berada dilantai 2. Dengan diam-diam mendekati pintu kamar Nana.
“Nana, ayo makan yuk!” ajak Brendan-Niichan.
Karena tidak ada jawaban, kak Brendan langsung membuka pintu. Ketika dibuka pintu Nana, jatuhlah setumpukkan buku yang dibuat oleh Nana. Dengan terheran-heran, kak Brendan mengatakan sambil menjewer telinga Nana.
“Jadi, begini toh! Selama ini kamu banyak-banyak beli buku buat menara gitu? Kamu tuh! Habis tau uang orang tua! Huh! Apa ndak tambah merah nih telinga?” marah kak Brendan sangarnya.
“Iya-iya. Aku minta maaf!” jawab Nana yang hampir menangis.
Tiba-tiba, datanglah seorang kakak perempuan yang bernama Fuyuki.
“Ada apa nih? Kok ribut?” Tanya kak Fuyuki.
“Nih adikmu! Menghabiskan uang orang tua hanya beli pensil. Terus, buat menara lagi. Apa ndak tambah marah?” Tanya kak Brendan.
“Udah! Kak Brendan makan aja dulu! Biar aku yang mengurus sisanya.” Kata kak Fuyuki sambil mendekati Nana.
“Iya.” Jawab kak Brendan tanpa coment meninggalkan kamar Nana.
Kak Fuyuki bertanya dengan halus.
“Ada apa? Kok tumben gak kayak biasanya?” Tanya kak Fuyuki.
“Gak papa. Hanya ingin buat menara.” Jawab Nana.
“Oh. Ya udah. Ayo turun. Nanti ibu marah!” kata kak Fuyuki.

“Yoooo!!!!” jawab Nana dengan semangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar