Mengingat kejadian yang tidak suka, seperti biasa, Minako dan kakak
kembarnya, Monoka, sedang mengobrol tak jauh dari tempat kejadian.
“Kak, dia menabrak Yosi! Kenapa dia main nabrak sih?”
“Terus? Emang kenapa?”
“Aku mau balas dendam sama Nana!”
“Terus? Apa rencanamu?”
“Kita ceburin ke kolam.”
“Ya!” seolah-olah tak bersemangat.
Pada istirahat, Minako menanyakan kepada Nana.
“Nana, nanti kamu gak ada eskul kah?”
“Gak. Klub karate hari ini libur. Kenapa?”
“Setelah pulang sekolah, kamu jangan pulang dulu ya! Ada yang ingin
aku ceritakan. Kamu tunggu didekat kolam ya?”
“Ya!”
Bel masuk berbunyi. Waktunya pelajaran Matematika. Pak Arita mulai
masuk ke kelas. Pada saat pelajaran, Nagisah yang tempat duduknya tepat didepan
tempat duduknya Nana, bertanya ke Nana.
“Nana, nanti kita pulang sama-sama kah?”
“Gak. Maaf ya?”
“Oh. Yaudah.”
Bel pulang berbunyi. Semua siswa beres-beres untuk pulang. Nana bersiap-siap
pergi ke dekat kolam. Nagisah curiga kepada Nana apa yang akan dilakukan Nana.
“Ritsu, kita pulang belakangan aja kah?”
“Ngapain?”
“Kita buntutin Nana.”
“Eeehh!! Emang kamu ini Detective Conan apa?”
“Aaah, bukan! Kamu gak curiga sama Nana?”
“Nana kan selalu begitu.”
“Ya sudah! Kalau kamu gak mau, aku aja yang…”
“Ya, ya,ya! Jangan marah! Ya! Aku ikut.”
Nagisah dan Ritsu membuntuti Nana. Perasaan Nana yang tidak enak
karena merasa dibuntuti oleh seseorang. Nagisah dan Ritsu mengusahakan agar
jangan sampai ketahuan oleh Nana. Dan itu membawa mereka pada suatu tempat ,
yaitu dekat kolam.
“Ngapain Nana dekat kolam?”
tanya Ritsu
“Ssstt! Diam! Nanti kita ketahuan sama Nana.” jawab Nagisah.
“Eh Nagisah! Bukankah itu Minako dan Monoka?”
“Mana? Iih! Iya. Tapi, apa yang mereka lakukan disini?”
“Entah. Tapi kita harus lihat Nana terus.”
“Ya.”
Kok lama
sekali sih Minako? Katanya ada yang dibicarakan. Jangan-jangan ada yang ada
dibicarakan rahasia banget. Jadi, jangan sampai ketahuan sama siapa pun.
Dan tiba-tiba Minako berlari mendekati Nana. Dengan kerasnya, Minako
menyenggolkan Nana hingga jatuh ke kolam dengan kerasnya.
BYUUURRR!!!
“RASAKAN TUH!! EMANG ENAK?”
Nana tercebur ke kolam yang tidak begitu dalam. Masalahnya, Nana tidak
bisa berenang. Tapi anehnya, Nana tidak meminta tolong kepada orang lain.
Nagisah dan Ritsu terkejut gak main-main. Ritsu berkata kepada Nagisah.
“Kejam sekali Minako! Dia kan gak ada salah. Kok malah diceburin?”
“Iya. Kasihan sekali Nana! Ayo kita tolong!”
“Jangan! Kemungkinan nyaris nol.”
“Nyaris nol apaan?”
“Coba kamu pikirkan! Kalau kita menolong secara tiba-tiba, mereka pasti
sadar kalau mereka sedang dibuntutin. Dan mereka akan mencaci maki kita. Kita
juga akan bernasib sama seperti Nana. Lebih baik kita tunggu sampai mereka
pergi.”
“Haaaahh?? Yang benar aja! Kamu tahu kan kalau Nana tidak bisa
berenang? Nanti Nana tenggelam, gimana?”
“Enggak lah. Aku masih berpikir apakah mereka akan masih lama atau
sebentar?”
Dan akhirnya keberuntungan terjadi. Akhirnya Minako dan Monoka pergi
meninggalkan Nana. Kesempatan yang bagus. Mereka diam-diam menghampiri Nana dan
mengulurkan tangan mereka.
“Nana, peganglah tanganku!” terusnya Ritsu.
Akhirnya Nana bisa keluar dari kolam renang.
“Nana, kita anterin pulang kah? Aku kasihan melihatmu. Dia kejam
banget.”
“Terima kasih.”
Setelah sampai dirumah Nana, ibunya Nana sangat terkejut ketika melihat
putri kesayangannya basah kuyup.
“Nana, kamu kenapa? Kok basah
kuyup?” Tanya Ibunya Nana
“Ritsu, bagaimana? Gimana kalau kamu yang bilang?” Tanya Nagisah.
“Gak. Kamu aja!”
“Ada apa? Kok malah bertengkar?”
“Anu, eh! Kayak apa ya jelasin?”
Aduh!
Gimana nih? Gimana kalau ibunya Nana marah? Aku takut lihat ibunya Nana marah.
Nana berkata dengan tiba-tiba,”Gak ada. Aku mau ke kamar!”
“Oh ya sudah. Adik-adik, makasih ya udah anterin Nana!”
“Iya bu! Apakah Nana selalu begitu?” Tanya Nagisah.
“Iya. Ibu juga gak tau kenapa Nana menjadi begitu. Waktu Yatsumi masih
sahabat dengan Nana, Nana gak pernah begitu. Apa mungkin Nana kelahi dengan
Yatsumi? Ah, lupakan! Sekali lagi makasih ya! Maaf telah merepotkan adik-adik!
Ayo masuk aja dulu!”
“Gak usah ibu! Kami mau pulang cepat! Nanti dicariin orang tua.”
Nana mengintip kejadian dari jendela kamar.
Yatsumi!
Seandainya kamu disini bersamaku, aku gak akan menjadi seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar